MUI: Jangan Nonton ‘ML’
Film ‘Mau Lagi’ (ML) makin tersudut. Setelah kembali disensor oleh LSF, film tersebut tetap diprotes. Malah Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta agar masyarakat tak menonton ML.
“Kalaupun film itu lulus sensor, kita menghimbau pada masyarakat agar jangan ditonton,” tegas Ketua MUI Drs H. Amidhan dalam jumpa pers di kantor MUI, Masjid Istiqlal, Taman Wijaya Kusuma, Jakarta Pusat, Selasa (13/5/2008).
Menurut Amidhan, ‘ML’ bisa batal tayang jika memang ada aspirasi dari masyarakat. Protes masyarakat seperti pada film ‘Buruan Cium Gue’ (BCG) dalam pandangannya juga merupakan bagian dari sensor film.
MUI mengeluarkan larangan pada film ‘ML’ bukan tanpa alasan. Baca entri selengkapnya »
Politik Pangan Iskandar Muda
Oleh: Desi Rinasari
Sejarah telah mencatat bahwa Aceh mempunyai politik pangan yang gemilang sejak zaman kerajaan. Pada suatu masa Kesultanan Aceh sangatlah masyhur. Aceh yang terletak pada simpangan pelayaran dunia menjadi pelabuhan persinggahan para pedagang dari Asia hingga Eropa. Pada masa pemerintahan sultan iskandar muda, Aceh mencapai masa keemasan. Dua strategi yang digunakan untuk mencapainya adalah dengan berusaha agar Aceh selalu unggul dibanding kerajaan tetangga dan menstabilkan pasokan pangan. Baca entri selengkapnya »
Dilemma Petani Pascaimpor Beras
Oleh: Desi Rinasari
Ketahan panga n dunia akan teruji pada abat 21 ini, krisis pangan itu akan menjadi krisis global terbesar. Bencana perut ini akan menimpa 36 negara di dunia. Akibat stok yang terbatas, harga berbagai komoditas pangan akan menembus level yang mengkhawatirkan. Bagai mana dengan Indonesia?
Bangsa ini ternyata masih menghadapi urusan perut yang kian melilit. Penyebabnya jelas, karena perkara beras yang tidak pernah ditangani dengan benar. Oleh karena itu, persoalan mendasar ini pun muncul setiap saat seperti yang diberitakan hampir semua media massa. Banyak warga masih antri beras yang disubsidi pemerintah atau beras miskin (raskin) di gang-gang desa termasuk petani. Pasalnya, beras semakin hari semakin meroket. Tak pelak lagi banyak masyarakat Indonesia masih harus menahan lapar karena kebutuhan pokok tersebut sulit sekali di dapatkan. Ironis bukan? Baca entri selengkapnya »
Sisi Lain Kehidupan Masyarakat Kepulauan
Oleh: Rahmat RA
”Matee aneuk meupat jeurat, gadoh adat ho tamita.” Peribahasa ini dipegang erat-erat oleh penduduk Aceh, tak terkecuali masyarakat yang mendiami Pulo Breuh. Dalam masyarakat Pulo Breuh, adat Keunduri u Gle masih dijalankan sampai sekarang.
Pante Weung, Tempat “Mangkal”Sang Petelur
Di sebuah pantai kecil sebelah barat Pulau Breuh Utara, ada satu pantai yang disebut Pantai Weung. Luasnya tidak kurang dari 50 meter, diapit oleh dua buah bukit di sisi utara dan selatan. Di pantai ini biasanya terdapat penyu-penyu yang mendaratkan telurnya di pantai berpasir.
Penyu, salah satu spesies binatang langka yang populasinya kian hari semakin menurun, dan terancam punah, karenanya sangat dilindungi di sana. Keberadaan penyu dimana pun memberi manfaat bagi manusia, karena telur-telurnya selain berprotein tinggi, juga memberi berguna secara ekonomi bagi warga yang mengelolanya, seperti yang dirasakan oleh warga desa Alue Raya saat ini. Baca entri selengkapnya »
TAMATNYA RIWAYAT KERAJAAN DI TEPI BARAT BAGIAN 2
Oleh : Rahmat RA
Pagi itu di istana, permaisuri sedang bersedih, sudah memasuki hari kesembilan Raja belum juga kembali dari berburu, sedangkan ngidam Sang Permaisuri sudah tak terbendung lagi, Pagi itu, untuk menghibur kakak iparnya, Cut Sari sengaja memakai pakaian abangnya, yaitu pakaian kebesaran Raja Cut. Cut Sari melakonkan sikap Raja, untuk mengisi waktu agar kakak ipar merasa senang dan gembira. Baca entri selengkapnya »
MUNGKINKAH BIREUN JADI KOTA METROPOLITAN?
TAMATNYA RIWAYAT KERAJAAN DI TEPI BARAT BAGIAN 1
Pada zaman dahulu, sekitar tahun 1785 M, di pesisir Pantai Barat Aceh banyak terdapat Kerajaan kecil, persisnya lokasi kerajaan yang dikisahkan dalam cerita ini adalah di Kecamatan Kuala Batee berbatasan dengan Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya sekarang, sebelum hancurnya kerajaan Kuala Batu, karena diserang oleh angkatan laut Amerika tahun 1832. Kerajaan Kuala Batee sebenarnya pecahan dari Kerajaan Lama Muda adalah lanjutan dari Kerajaan Lama Tuha, karena Kerajaan Lama Tuha Hancur diterjang banjir pada pertengahan abad 18 (1740 M).

