Sejarah telah mencatat bahwa Aceh mempunyai politik pangan yang gemilang sejak zaman kerajaan. Pada suatu masa Kesultanan Aceh sangatlah masyhur. Aceh yang terletak pada simpangan pelayaran dunia menjadi pelabuhan persinggahan para pedagang dari Asia hingga Eropa. Pada masa pemerintahan sultan iskandar muda, Aceh mencapai masa keemasan. Baca entri selengkapnya »
Ketahan panga n dunia akan teruji pada abat 21 ini, krisis pangan itu akan menjadi krisis global terbesar. Bencana perut ini akan menimpa 36 negara di dunia. Akibat stok yang terbatas, harga berbagai komoditas pangan akan menembus level yang mengkhawatirkan. Bagai mana dengan Indonesia? Baca entri selengkapnya »
”Matee aneuk meupat jeurat, gadoh adat ho tamita.” Peribahasa ini dipegang erat-erat oleh penduduk Aceh, tak terkecuali masyarakat yang mendiami Pulo Breuh. Dalam masyarakat Pulo Breuh, adat Keunduri u Gle masih dijalankan sampai sekarang. Baca entri selengkapnya »
Di sebuah pantai kecil sebelah barat Pulau Breuh Utara, ada satu pantai yang disebut Pantai Weung. Luasnya tidak kurang dari 50 meter, diapit oleh dua buah bukit di sisi utara dan selatan. Di pantai ini biasanya terdapat penyu-penyu yang mendaratkan telurnya di pantai berpasir. Baca entri selengkapnya »
Dulu ada cerita. Tak jelas apakah cerita itu benar atau tidak. Jika kita sempat menyeberang ke Pulau Aceh, kita disambut bak seorang raja. Sejak dari tempat pendaratan boat, kita dilayani dengan ramah, dibawa ke warung, dan ditawarin makanan apa saja, asal kita sanggup memakannya. Tapi jangan berharap kita akan dibawa-bawa jalan-jalan mengelilingi Aceh, dan menikmati pemandangan di Pulau Aceh. Begitu kita selesai makan, kita diantar ke tempat pendaratan boat untuk kembali pulang. Baca entri selengkapnya »
Sejarah kejayaan Aceh masa Iskandar Muda, sepertinya ingin diulang di Kota Bireuen. Kota yang lepas dari Kabupaten Aceh Utara tahun 1999 itu, kini makin berkiprah. Terutama dalam bidang perindustrian. Rancangan industri tersebut bukanlah renungan tiba-tiba tentu. Akan tetapi, sebagian sudah terencana sejak awal-awal pelabuhan bebas atau lebih dikenal dengan Kawasan Pembangunan Ekonomi Terpadu (Kapet) Sabang. Hanya saja kondisi Aceh sebelumnya tak memungkinkan. Baca entri selengkapnya »
Pagi itu di istana, permaisuri sedang bersedih, sudah memasuki hari kesembilan Raja belum juga kembali dari berburu, sedangkan ngidam Sang Permaisuri sudah tak terbendung lagi, Pagi itu, untuk menghibur kakak iparnya, Cut Sari sengaja memakai pakaian abangnya, yaitu pakaian kebesaran Raja Cut. Cut Sari melakonkan sikap Raja, untuk mengisi waktu agar kakak ipar merasa senang dan gembira.
Sekitar jam sembilan pagi Cut Sari sudah siap dengan pakaian kebesaran, seolah-olah dia seorang Pangeran yang sedang mencumbu isterinya yang berduka. Baca entri selengkapnya »
Zaman dahulu, sekitar tahun 1785 M, di pesisir Pantai Barat Aceh banyak terdapat Kerajaan kecil, persisnya lokasi kerajaan yang dikisahkan dalam cerita ini adalah di Kecamatan Kuala Batee berbatasan dengan Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya sekarang, sebelum hancurnya kerajaan Kuala Batu, karena diserang oleh angkatan laut Amerika tahun 1832. Kerajaan Kuala Batee sebenarnya pecahan dari Kerajaan Lama Muda adalah lanjutan dari Kerajaan Lama Tuha, karena Kerajaan Lama Tuha Hancur diterjang banjir pada pertengahan abad 18 (1740 M). Baca entri selengkapnya »



