MUNGKINKAH BIREUN JADI KOTA METROPOLITAN?
Tahun 1999, merupakan masa-masa konflik terparah. Aceh yang selama ini jadi pusat Daerah Operasi Militer (DOM) telah dicabut. Namun militer masih menguasai kawasan ini. Bangunan fisik banyak yang jadi sasaran dan terbakarkan. Bila ada anggaran daerah, pun itu akan habis untuk membangun infrastruktur yang rusak.
Derita belum usai. Tahun 2004, bencana alam terbesar di Indonesia terjadi di Serambi Makkah ini. Sebagai kota kecil yang baru belajar mandiri, hal ini sangat berdampak bagi perkembangan Kota Bireuen yang dari jauh-jauh hari sudah direncanakan. Barulah pada 2005, sebuah MoU damai ditandatangani di Helsinki. Hal ini kemudian dapat dirasakan untuk memuluskan jalan merajut asa ke masa depan. Kota Bireuen pun disulap menjadi kawasan industri dalam waktu yang relatif singkat. Letak yang sangat strategis, membuat rencana di kota ini berjalan mulus.
Dalam peta rencana, pusat pertumbuhan ekonomi Bireuen tahun 2006, terlihat tiga industri tersebar di pesisir Selat Malaka. Salah satunya Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) di Kecamatan Peudada dengan fasilitas pabrik es yang berkapasitas memproduksi 10 ton per hari, beberapa ruko, berikut berkembangnya koperasi bahari.
Itu adalah PPI terbaik di Aceh. Pembangunan PPI ini merupakan ide yang cemerlang. Ide yang patut dibanggakan masyarakat Aceh. Daripada dana yang ada dibelikan boat dan perlengkapan nelayan, dana tersebut dibangunkan PPI. Hasilnya, pekerjaan nelayan pun jadi lebih terarah.
Dengan begitu, masa depan nelayan jadi makin cerah. Apalagi, PPI tersebut ramai disinggahi nelayan atau muge eungkot dari dan ke berbagai daerah. Pada gilirannya, bantuan boat datang dengan sendirinya.
Bireuen sepertinya lebih cenderung melihat dari potensi ekonomi dalam pembangunan daerahnya. Pembangunan daerah di kota ini, terasa lebih memakai ‘sistem pemutaran uang’. Dana yang ada digunakan untuk mendapatkan hasil yang lebih besar. PPI tersebut, salah satu bangunan yang pada awalnya kurang disetujui karena menghabiskan dana cukup besar.
Dengan dana Rp4,5 miliar lebih, akhirnya Bireuen mampu mendapatkan berlipat-lipat ganda keuntungan yang dipetik langsung oleh masyarakat. Karena itu, roda perekonomian kota ini terus berjalan dan lancar. Dari adanya PPI, ratusan masyarakat mendapat lapangan pekerjaan yang terdiri dari nelayan dan pedagang.
Industri lain adalah Kawasan Industri Bireuen (KIB) di Gle Bate Geulungku Kecamatan Simpang Mamplam. Di lokasi inilah berkumpul industri-industri berkelas di Bireuen. Antaranya, industri garmen pakaian jadi yang dikelalo Koperasi Pabrik Garmen Aceh (KPGA). Buah prakarsanya, Internasional Garment Training Centre (IGTC) Bogor. Setidaknya akan ada 120 unit kavling industri berskala besar di atas areal minimum 660 hektar itu.
Pabrik garmen tersebut yang pertama di Aceh. Keberadaan pabrik ini akan memperkecil biaya sandang masyarakat, karena biasanya, untuk urusan pakaian warga Aceh harus belanja ke Medan atau ke Tanah Jawa.
Apalah arti perindustrian bila hanya jadi pajangan tanpa penunjang agar roda perekonomian berputar? Karena itu, gagasan pemekaran hamparan luas Glee Bate Geulungkue Simpang Mamplam, dan Kecematan Pandrah, diiringi pembangunan pelabuhan yang dapat disinggahi kapal lokal maupun asing.
Dengan hubungan jalur pesisir akan memudahkan kapal-kapal asing singgah. Keadaan strategis ini mengingatkan kita pada kejayaan Sultan Iskandar Muda yang menjadikan pesisir sebagai jalur perdagangan. Bayangkan, bila bangsa asing mulai mengosumsi produksi dalam negeri, khususnya Aceh. Maka, taraf perekonomian rakyat akan semakin maju.
Selain pabrik garmen di KIB, juga terdapat industri pabrik pengolahan logam Industri. Ini, dimotori mantan kombatan GAM. Satu lagi yang tak kalah penting juga memadati pesisir Aceh yaitu pusat perdagangan Bireuen.
Dari sana, pertukaran barang dan kegiatan jual beli akan menjadi lebih praktis. Kapal-kapal asing pun dapat singgah tanpa harus melalui jalur darat. Bireuen memang memiliki daerah yang sangat strategis.
Sebenarnya, siapa saja dapat mempergunakan jalur pesisir karena Indonesia di kelilingi laut. Namun, semua itu bergantung dari pola pikir dan rasa optimistis untuk keberhasilan dan kesejahteraan masyarakat.
Bidang industri merupakan salah satu potensi lapangan pekerjaan yang luas dan dapat dikerjakan oleh kalangan atas maupun bawah. Sementara perindustrian yang pesat dan kompleks, sangat menggiurkan bangsa asing untuk menanamkan modal. Oleh karena itu, banyak bangsa asing yang ingin menanamkan modalnya di Bireuen, khususnya dalam bidang perindustrian.
Bireuen akan menjadi pusat perdagangan dan perindustrian Aceh, karena hampir semua jenis usaha ada di situ. Tak salah bila kemudian Bireuen seperti sebuah kebun kecil yang produktif. Pasca penandatanganan damai Helsinki, semua “ditanam” di kawasan ini.
Bukan hanya pabrik garmen, ada sebuah usaha lain yang sangat fantastis yaitu pusat biodiesel Bireuen. Bahan bakar alternatif tersebut dibuat dari biji jarak yang akan menghasilkan minyak pengganti solar.
Terkadang, kita tidak dapat terlalu lama menunggu fosil-fosil dalam tanah membusuk hingga melahirkan bahan bakar. Meski biji jarak ini tidak dibeli langsung, tapi tokh segala cara dapat saja ditempuh seperti menanam pohon jarak dalam skala besar.
Semua itu memerlukan keberanian dan kesabaran memang. Aceh, mungkin juga dunia tak perlu khawatir bila minyak di Arun habis karena Bireuen mungkin akan menggantikan mantan induknya itu dalam masalah bahan bakar.
Rasanya tak lama lagi Bireuen, karena kecanggihannya, akan meninggalkan bagian Aceh lain yang telah lebih dulu berjaya. Namun, sungguh, Bireuen melakukan gebrakan yang luar biasa itu mulai merangkak naik semenjak satu atau dua tahun lalu.
Bukan hanya industri, tapi juga tata wajah bangunan yang dirancang begitu fantastis. Kota ini hampir memenuhi segala persyaratan kota metropolitan dengan hadirnya supermarket Murni Garden Squer. Sebuah supermarket grosir terbesar yang begitu tertata apik.
Itulah awal pembangunan wajah kota. Tentu, bangunan serupa akan bermunculan agar persaingan berjalan sportif. Cocok sekali. Akan ada kota impian di Aceh yang akan menjadi pusat tujuan bangsa asing dalam berkunjung di tanoh rincong. Seperti Bali misalnya. Mudah-mudahan saja. Namun, hal itu tentu dengan tetap menjaga Syariat Islam.
Industri yang dibangun secara serentak, menjadikan masa depan Bireuen diserbu pengunjung dari berbagai kawasan. Karena itu, sebelum terjadi, Bireuen harus ligat-ligat mengantisipasi tata kota yang lebih praktis dan terkendali. Tujuannya, agar kota industri Bireuen tidak mati di tengah jalan akhirnya.
Delapan tahun adalah waktu yang singkat untuk sebuah pembangunan yang besar. Kini, bukan hanya industri keripik dan sate matang yang akan kita temui ketika bolak-bolik Medan-Banda Aceh. Sudah lebih dari itu. Kita akan menemui sesuatu di Bireuen, bahkan yang tak pernah kita temui di bagian Aceh lain, yaitu rasa optimistis dalam membangun daerah.
Saat ini, kota tersebut masih dikatakan sedang berdiri dan melanjutkan pembagunan. Mungkinkah beberapa tahun kemudian Bireuen menjadi kota metropolitan, sehingga menjadi tujuan semua masyarakat Aceh, Indonesia, bahkan dunia? Kepiawaian pemerintah setempat, tentu menjadi bagian terpenting yang turut menentukan masa depan. Semoga saja!