Desramedia Weblog

Just another WordPress.com weblog

Pante Weung, Tempat “Mangkal”Sang Petelur

tinggalkan komentar »

Oleh: Rahmat RA

Di sebuah pantai kecil sebelah barat Pulau Breuh Utara, ada satu pantai yang disebut Pantai Weung. Luasnya tidak kurang dari 50 meter, diapit oleh dua buah bukit di sisi utara dan selatan. Di pantai ini biasanya terdapat penyu-penyu yang mendaratkan telurnya di pantai berpasir.

Penyu, salah satu spesies binatang langka yang populasinya kian hari semakin menurun, dan terancam punah, karenanya sangat dilindungi di sana. Keberadaan penyu dimana pun memberi manfaat bagi manusia, karena telur-telurnya selain berprotein tinggi, juga memberi berguna secara ekonomi bagi warga yang mengelolanya, seperti yang dirasakan oleh warga desa Alue Raya saat ini.

Saat ini populasi penyu yang mendarat di pantai Weung terancam hilang, apalagi ditambah dengan tidak adanya lagi usaha pengembangan populasi penyu yang dilakukan oleh warga, karena telur-telur penyu terus diambil menjadi sumber devisa bagi warga. Menurut keterangan dari sekretaris desa Alue Raya, Jailani M Amin(39 th), penyebab berkurangnya populasi penyu di daerah itu karena telur-telurnya terus diambil, juga diakibatkan oleh hama biawak yang sering memakan telur-telur penyu di pantai Weung. Makanya telur-telur penyu jarang yang dapat dieramkan.

Untuk melindungi populasi penyu, masyarakat setempat mempunyai hukum adat yang harus dipatuhi. Sanksi adat itu berupa harus membuat Kenduri Ketan atau warga setempat biasa menyebutnya dengan Peusijuek Bue leukat kuneng, lengkap dengan penganan-penganannya, seperti kue-kue tradisional dan sebagainya, apabila kedapatan membunuh penyu. Tradisi ini tetap dipertahankan warga pulau Breuh secara turun temurun sampai sekarang.

Sukri Is(50), warga desa Alue Raya, dijuluki dengan Ureung Pak Penyi oleh warga setempat, adalah penjaga Pantai Weung, tempat mendaratnya penyu di pulau Breuh dan sekaligus sebagai pengelolanya.

“Sebelum tsunami, jumlah penyu yang mendaratkan telurnya di pantai ini tidak lebih dari 4 ekor dengan telurnya berkisar antara 60-an sampai seratus-an dalam seminggu,” katanya.

Pasca tsunami, jumlah penyu-penyu yang mendarat di pantai Weung berkurang setengahnya. ”Paling tinggal 2 ekor penyu lagi, itu pun dalam selang waktu 12 malam,” ujar Syukri Is.

Jenis-jenis penyu yang sering mendarat di pantai weung di antaranya, Penyi Abeung (Penyu Belimbing-Dermochelys coriacea) berukuran sekitar 2,5 m, Penyi Eungkot atau penyu ikan (Eretmochelys imbricate) karena bentuknya seperti ikan, berukuran sekitar 1 m dan yang paling kecil adalah, Penyi Karah (Penyu Hijau-Chelonia Mydas), berukuran sekitar 0,5m atau 50 meter. Di antara jenis-jenis penyu yang lainya, yang paling banyak menghasilkan telur adalah Penyu Karah, walaupun ukurannya kecil diantara jenis yang lainnya.

Menurut dari cerita masyarakat pulau Breuh, seperti dituturkan Ureung pak Penyi, beberapa tahun lalu pernah ada penyu yang kakinya sebelah tidak ada lagi, masyarakat setempat menyebutnya dengan penyi puntong gaki, namun jenisnya kurang diketahui. Menurut cerita, jika ada penyu itu mendarat di pantai Weung, maka bakal banyak penyu-penyu yang lain akan pulang ke pantai Weung mendaratkan telur-telurnya. Ureung pak Penyi menyebutkan bahwa penyi puntong gaki itu terakhir terlihat pada tahun 2000.[]

Written by desramedia

Mei 7, 2008 pada 11:16 pm

Ditulis dalam Ekonomi, Reportase, Uncategorized

Tagged with ,

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.