<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>KANZ&#039;RA</title>
	<atom:link href="http://desramedia.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://desramedia.wordpress.com</link>
	<description>Beberapa Coretan Kecil</description>
	<lastBuildDate>Thu, 21 Oct 2010 14:49:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='desramedia.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>KANZ&#039;RA</title>
		<link>http://desramedia.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://desramedia.wordpress.com/osd.xml" title="KANZ&#039;RA" />
	<atom:link rel='hub' href='http://desramedia.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Politik Pangan Iskandar Muda</title>
		<link>http://desramedia.wordpress.com/2008/05/08/politik-pangan-iskandar-muda/</link>
		<comments>http://desramedia.wordpress.com/2008/05/08/politik-pangan-iskandar-muda/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 May 2008 21:44:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rahmat RA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Sultan Iskandar Muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://desramedia.wordpress.com/?p=81</guid>
		<description><![CDATA[Sejarah telah mencatat bahwa Aceh mempunyai politik pangan yang gemilang sejak zaman kerajaan. Pada suatu masa Kesultanan Aceh sangatlah masyhur. Aceh yang terletak pada simpangan pelayaran dunia menjadi pelabuhan persinggahan para pedagang dari Asia hingga Eropa. Pada masa pemerintahan sultan iskandar muda, Aceh mencapai masa keemasan. Dua strategi yang digunakan untuk mencapainya adalah dengan berusaha [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desramedia.wordpress.com&amp;blog=1514044&amp;post=81&amp;subd=desramedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejarah telah mencatat bahwa Aceh mempunyai politik pangan yang gemilang sejak zaman kerajaan. Pada suatu masa Kesultanan Aceh sangatlah masyhur. Aceh yang terletak pada simpangan pelayaran dunia menjadi pelabuhan persinggahan para pedagang dari Asia hingga Eropa. Pada masa pemerintahan sultan iskandar muda, Aceh mencapai masa keemasan.<span id="more-81"></span><br />
Dua strategi yang digunakan untuk mencapainya adalah dengan berusaha agar Aceh selalu unggul dibanding kerajaan tetangga dan menstabilkan pasokan pangan.<br />
Kajian mengenai Kesultanan Aceh dan Iskandar Muda yang dilakukan oleh ahli sejarah asal Perancis, Denys Lombard, dalam disertasi berjudul Le Sultanat d’Atjeh au temps d’Iskandar Muda (1607-1636) yang diterbitkan tahun 1967 (kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berjudul Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda 1607-1636)<br />
Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial Universitas Negeri Medan Ichwan Azhari mengatakan, Kesultanan Aceh semasa Iskandar Muda memiliki lumbung yang kuat sekali. Mereka menyelesaikan dulu masalah pangan ketika memperkuat kekuasaan. Kesultanan Aceh mempunyai strategi yang sangat bagus dengan memiliki logistik yang kuat sebelum melakukan ekspedisi. Iskandar Muda berhasil merumuskan politik pangan selama masa kepemimpinannya yang sekitar 30 tahun.<br />
Kondisi sebelum Iskandar Muda tergolong memprihatinkan, Pergantian kekuasaan terjadi silih berganti di Aceh. Kadang negeri ini kuat, kadang pula lemah. Bahkan, ada periode gelap seperti disebut oleh Lombard. Banyak orang-orang kaya yang mempunyai hak-hak istimewa. Salah satunya, mereka memiliki lumbung-lumbung pangan dan memiliki cadangan beras yang dengan mudah digunakan untuk berspekulasi hingga bisa dijual dengan harga setinggi mungkin. Di kelas lainnya terdapat kelompok orang miskin. Untuk sekadar mendapatkan beras mereka terpaksa harus menjadi budak.<br />
Ketika ia mulai memimpin, kemelut pangan dirasakan rakyat dan bisa mengancam kekuasaannya itu segera dibenahi. Sejak awal, Iskandar Muda mengetahui masalah ini. Ia sadar bahwa bila masalah ini dibiarkan, akan memperlemah kekuasaannya. Kelak, ia berusaha mengurangi peran orang kaya ini. Problem pangan di dalam negeri harus segera diselesaikan.<br />
Di sisi lain, kenyataan posisi Aceh yang menjadi tempat persilangan lalu lintas perdagangan dunia mengharuskan mereka tidak hanya memasok beras untuk kebutuhan sendiri, tetapi juga untuk kebutuhan awak kapal asing. Kelemahan dalam pasokan beras akan menjadikan para awak kapal dari berbagai negara lari dan berpindah ke pelabuhan lain yang bisa menjamin pasokan pangan.<br />
Pasokan pangan menjadi masalah utama Kesultanan Aceh. Pelaut-pelaut Eropa menyatakan kekecewaannya karena tidak semua lahan ditanami. Penduduk Aceh menyerahkan urusan penanaman kepada para budak. Mereka tidak tertarik untuk bekerja sebagai petani. Lingkungan Aceh yang mungkin dipengaruhi oleh kelompok penduduk yang tidak terbiasa bertani sehingga mereka tidak menanam padi. Kota Aceh merupakan kota dagang bukan merupakan wilayah agraris.<br />
Dalam hal ini, Aceh sangat tergantung pada kemampuan budak-budak yang harus menanam padi dan di sisi lain tergantung pada kiriman padi dari daerah lain sehingga sejak awal dipahami bila kendali terhadap pasokan beras mengendur, maka problem kelaparan akan muncul. Hal ini pernah terjadi tahun 1605 sebelum Iskandar Muda berkuasa, dilaporkan terjadi kemarau besar hingga terjadi kelaparan.<br />
Semasa kepemimpinan Iskandar Muda, situasi ini berhasil dikendalikan. Dari laporan yang ada disebutkan, ia mampu memenuhi kebutuhan rakyatnya dengan baik. Peran orang kaya yang mengendalikan pasokan beras dikurangi. Beras didatangkan dari sejumlah tempat, seperti Pidir (Pidie) dan Daya (Aceh Jaya). Ketika jumlah itu belum memadai, beras didatangkan dari Semenanjung Melayu melalui laut. Untuk mendapatkan beras, Aceh juga menukar emas dengan komoditas tersebut ketika bertemu dengan orang Minangkabau yang menghasilkan beras.<br />
Penguasa Aceh selalu memastikan pengadaan pangan Aceh tidak boleh lengah terhadap saingan mereka seperti Pahang, Johor, dan Perak. Untuk itu, di samping politik maritim, Iskandar Muda juga mengembangkan politik pertanian (di dalam salah satu sumber disebut politik daratan) dengan merangsang produksi. Budak dikirim ke pedalaman untuk menanam padi. Pembagian beras kadang dilakukan untuk menjamin ketersediaan pangan meski diawasi ketat.<br />
Menyadari masalah pangan selalu muncul, Iskandar Muda selalu berusaha memperkuat stok pangan. Di tengah kesulitan mendapatkan petani, Iskandar Muda menambah tenaga kerja untuk menanam padi dengan cara menambah penduduk yang didatangkan dari daerah-daerah taklukan.<br />
Ichwan juga mengatakan, daerah-daerah yang ditaklukkan memberi upeti berupa pangan. Meski daerah taklukan itu tunduk dan menyerahkan penduduknya untuk bekerja menanam padi di Aceh, urusan daerah taklukan tidak seluruhnya dikendalikan oleh Aceh. Aceh hanya ingin jaminan pasokan pangan.<br />
Dalam era penaklukan terhadap sejumlah kerajaan di sekitarnya, armada Aceh selalu mempersiapkan diri. Mereka menyiapkan logistik pangan untuk kebutuhan selama tiga bulan. Sayangnya, tidak ada sumber yang merinci mengenai persiapan logistik yang tergolong lama itu.<br />
Iskandar Muda yang kuat (dan tidak sedikit disebut kejam) sejak awal mengetahui bahwa pangan merupakan salah satu pilarnya. Secara disiplin, ia mengendalikan pasokan beras. Ia juga menekan peran-peran spekulan yang tidak hanya merongrong kekuasaannya, tetapi juga menyengsarakan rakyat.<br />
Politik pangan Iskandar Muda menjadi pelajaran bagi penguasa di republik ini yang mudah dipermainkan oleh spekulan beras, spekulan pupuk, dan juga spekulan benih di tengah krisis pangan yang tengah terjadi. Membiarkan permainan para spekulan itu tak lebih membiarkan mereka merongrong kekuasaan.<br />
Ingat, tidak ada kelaparan (krisis pangan) kalau ada keputusan politik yang tepat dari pemerintah. Kewibawaan penguasa ditentukan oleh kemampuan mereka mengambil keputusan. Betul?[]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/desramedia.wordpress.com/81/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/desramedia.wordpress.com/81/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/desramedia.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/desramedia.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/desramedia.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/desramedia.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/desramedia.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/desramedia.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/desramedia.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/desramedia.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/desramedia.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/desramedia.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/desramedia.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/desramedia.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/desramedia.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/desramedia.wordpress.com/81/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desramedia.wordpress.com&amp;blog=1514044&amp;post=81&amp;subd=desramedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://desramedia.wordpress.com/2008/05/08/politik-pangan-iskandar-muda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>5.546182 95.319054</georss:point>
		<geo:lat>5.546182</geo:lat>
		<geo:long>95.319054</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee60067d4ead20f465ed9f38f7fb74b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">desramedia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dilemma Petani Pascaimpor Beras</title>
		<link>http://desramedia.wordpress.com/2008/05/08/dilemma-petani-pascaimpor-beras/</link>
		<comments>http://desramedia.wordpress.com/2008/05/08/dilemma-petani-pascaimpor-beras/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 May 2008 00:11:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rahmat RA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Pangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://desramedia.wordpress.com/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[Ketahan panga n dunia akan teruji pada abat 21 ini, krisis pangan itu akan menjadi krisis global terbesar. Bencana perut ini akan menimpa 36 negara di dunia. Akibat stok yang terbatas, harga berbagai komoditas pangan akan menembus level yang mengkhawatirkan. Bagai mana dengan Indonesia? Bangsa ini ternyata masih menghadapi urusan perut yang kian melilit. Penyebabnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desramedia.wordpress.com&amp;blog=1514044&amp;post=78&amp;subd=desramedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketahan panga n dunia akan teruji pada abat 21 ini, krisis pangan itu akan menjadi krisis global terbesar. Bencana perut ini akan menimpa 36 negara di dunia. Akibat stok yang terbatas, harga berbagai komoditas pangan akan menembus level yang mengkhawatirkan. Bagai mana dengan Indonesia?<span id="more-78"></span><br />
Bangsa ini ternyata masih menghadapi urusan perut yang kian melilit. Penyebabnya jelas, karena perkara beras yang tidak pernah ditangani dengan benar. Oleh karena itu, persoalan mendasar ini pun muncul setiap saat seperti yang diberitakan hampir semua media massa. Banyak warga masih antri beras yang disubsidi pemerintah atau beras miskin (raskin) di gang-gang desa termasuk petani. Pasalnya, beras semakin hari semakin meroket. Tak pelak lagi banyak masyarakat Indonesia masih harus menahan lapar karena kebutuhan pokok tersebut sulit sekali di dapatkan. Ironis bukan?<!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;">Sebagai produsen beras, farmer society atau para pak tani yang ada di nusantara ini seakan tak punya peran sama sekali dan tak mampu menjawab kebutuhan pangan. Padahal di sepanjang perjalanan tampak sawah nan hijau tempat mereka menabur benih terbentang luas. Namun anehnya sebagian besar petani kita memiliki lahan kurang dari 0,25 hektar (rata-rata nasional 0,36 hektar dengan jumlah petani 48 persen total penduduk). Kelompok petani berlahan sempit dan buruh tani itu justru akan menderita dampak terbesar karena sekitar 60 persen pendapatan mereka dibelanjakan untuk pangan. Apakah itu pertanda kemakmuran ekonomi rakyat khususnya para petani? Sementara potensi lahan yang begitu besar tak dibarengi oleh peran aktif pemerintah yang tidak menampakkan keseriusan menanggulangi krisis pangan. Buktinya, sampai saat ini Indonesia belum memiliki undang-undang pangan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;">Meski lahan pertanian terbentang luas bukan berarti masyarakat terbebas dari kekurangan beras karena kegagalan pascapanen kerap terjadi dan menurunkan produksi dalam negeri. Kebutuhan pangan pokok yang mau tak mau harus dipenuhi memaksa pemerintah melakukan tindakan impor beras dengan alasan stok beras menipis.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;">Seperti yang terjadi di Aceh, Meski beras surplus, namun menurut Wagub Muhammad Nazar, Aceh masih menghadapi kendala, antara lain kehilangan hasil padi pada perlakuan pascapanen masih tinggi yaitu sekitar 17 persen, produktivitas komoditi pangan relatif rendah akibat penerapan teknologi anjuran belum optimal/sempurna, pemilikan modal petani masih rendah sehingga sulit berkembang sesuai dengan rencana yang diprogramkan, infrastruktur yang ada belum mampu memenuhi kebutuhan usaha tani sehingga sangat mempengaruhi produktivitas.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;">Sejarah pertanian Aceh mencatat produksi beras Aceh pada 2006 mencapai 852.744 ton dan konsumsi 684.757 ton. Luas tanam 346.034 hektare, luas panen 320.789 hektare, produktivitas 42,11 Kw/Ha, jumlah produksi 1.350.747 ton. Pada 2007, luas tanam 379.660 hektare, luas panen 358.726 hektare, produktivitas 2,30 Kw/Ha, dan jumlah produksi 1.517.952 ton.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;">Sejak tahun 2005, pemerintah telah melakukan impor dengan cara tidak sehat. Permainan politik pun mulai dilakoni dengan cara menipu rakyat. Mereka berjanji tidak akan impor beras bila harganya masih di bawah Rp 3.500 per kilogram (kg). Ternyata diam-diam pemerintah tetap mengimpor beras yang berakibat anjloknya harga beras dalam negeri. Tragedi impor beras ini terjadi setiap tahun dengan permainan politik yang sama.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;">Pemerintah mengambil kebijakan impor beras bila harga beras naik, tapi kenyataan pemerintah tetap impor beras meski saat itu harga beras di tingkat petani pada kisaran harga Rp3.800/kg sampai Rp4.200/kg. Dengan masuknya beras impor, beras dalam negeri akan ikut murah dan ini dapat merugikan petani. Keadaan ini lebih terlihat bahwa pemerintah lebih memikirkan peningkatan ekonomi masyarakat luar negeri dan melumpuhkan petani dalam negeri dengan mengimpor beras mahal, lalu mensubsidinya sehingga beredar dipasar dengan harga murah, otomatis harga beras dalam negeri pun ikut murah. Usaha ini salah satu upaya meruntuhkan ketahanan pangan Negara Indonesia.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;">Akhirnya kita akan selalu mendapatkan petani sebagai masyarakat yang selalu tertinggal. Mereka harus mengeluarkan biaya produksi yag sangat besar seperti membeli pupuk yang kian meroket dan sewa lahan tapi ketika panen gabah mereka dibayar dengan harga yang sangat rendah. Logikanya bila barang melimpah harga jual pun akan rendah, tapi faktanya Indonesia masih membutuhkan impor beras yang berarti stok beras dalam negeri tidak cukup. Kalau begitu, kembali pada hukum ekonomi bahwa bila barang yang beredar sedikit, harga jual pun akan tinggi. Pertanyaan yang sama kembali terulang kenapa petani tetap miskin. Itu karena pemerintah membeli gabah mereka dengan harga yang sangat-sangat rendah. Harga gabah petani hanya terjual dengan harga 1.500—1.700 rupiah per kilogram, itu berarti masih jauh di bawah HPP yang ditetapkan pemerintah sebesar 2000/kg.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;">Padahal, Indonesia Pada era Orde Baru, yaitu sekitar tahun 1960-an hingga awal 1990-an Indonesia termasuk salah satu negara yang berhasil mengantar sektor pertanian terutama beras dari jurang kekurangan menuju swasembada. Pemenuhan kebutuhan sendiri ini berlangsung pada era 1980-an. Bahkan pada tahun 1980 hingga tahun 1985 Indonesia adalah net-eksportir beras.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;">Di sisi lain, Impor beras dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sedangkan kenyataannya stok beras dalam negeri melimpah, tapi masalahnya pemerintah tidak membeli semua hasil panen petani. Seperti yang terjadi tahun 2007 di Belitang I Sumatera Selatan dan sekitarnya, Bulog hanya mampu menyerap 60.000 ton beras petani lokal. Padahal di awal panen raya, Sumsel sudah mencapai 600.000 ton beras dan diperkirakan akan mencapai 1,8 juta ton. Dari jumlah 600.000 ton beras, sementara Bulog hanya mampu menyerap 60.000, berarti tersisa 540.000 ton beras. Lalu sisa beras dibeli oleh para tengkulak dengan harga yang sangat murah. Dalam hal ini lagi-lagi petani yang dirugikan. Dari sinilah terjadi ekspor yang tidak sehat. Tengkulak menjual beras dengan harga yang tinggi hingga beras yang beredar di pasar juga tinggi.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;">Setelah beras diekspor lalu diimpor kembali k e dalam negeri dengan kemasan baru. Sementara kisaran harga beras di pasar internasional saat ini 14% lebih murah dibandingkan harga dalam negeri, dan keikutsertaan Indonesia dalam WTO memaksa pengurangan pajak bea cukai, termasuk untuk produk pertanian. Harga beras impor yang murah karena tidak terkalibrasi oleh pajak impor akan menyeret harga beras dalam negeri menjadi murah. Di sini, petani sebagai produsen jelas akan semakin dirugikan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;">Padahal beras impor tersebut berasal dari lahan pertanian mereka sendiri yang dijual sangat murah kepada pemerintah dan tengkulak. Sekarang mari kita bandingkan harga gabah yang menembus pasar dan harga beras yang tinggi. Maka selisih akan semakin besar dan membesar bila tidak diatasi sekarang. Selisih akan diisi melalui impor beras seperti yang selama ini dilakukan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;">Sementara kita harus menghadapi kemelut pangan Pada tahun 2018, dengan laju pertumbuhan penduduk 1,5% per tahun, maka populasi manusia mencapai 270,8 juta jiwa. Bila diproyeksikan berdasarkan data Departemen Pertanian bahwa konsumsi beras per kapita sebesar 115 kg/kapita/tahun, maka pada tahun 2018 kita membutuhkan beras sebanyak 40,182 juta ton. Jumlah beras sebesar itu harus didapat dari produksi gabah kering giling (GKG) sebesar 69,1 juta ton yang dapat dihasilkan dari luas panen 13,8 juta ha . Sebagai perbandingan luas panen nasional tahun 2005 adalah 11,8 juta ha, yang berarti perlu penambahan lahan pertanian, dan memperhitungkan laju konversi lahan sawah setiap tahunnya mencapai 134 ribu ha/tahun. Kurangnya luas lahan yang dibutuhkan menjadi faktor penentu ketersediaan beras. Akankah kita jadi pengimpor beras sepanjang masa?[]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/desramedia.wordpress.com/78/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/desramedia.wordpress.com/78/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/desramedia.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/desramedia.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/desramedia.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/desramedia.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/desramedia.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/desramedia.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/desramedia.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/desramedia.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/desramedia.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/desramedia.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/desramedia.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/desramedia.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/desramedia.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/desramedia.wordpress.com/78/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desramedia.wordpress.com&amp;blog=1514044&amp;post=78&amp;subd=desramedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://desramedia.wordpress.com/2008/05/08/dilemma-petani-pascaimpor-beras/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>5.546182 95.319054</georss:point>
		<geo:lat>5.546182</geo:lat>
		<geo:long>95.319054</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee60067d4ead20f465ed9f38f7fb74b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">desramedia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sisi Lain Kehidupan Masyarakat Kepulauan</title>
		<link>http://desramedia.wordpress.com/2008/05/07/sisi-lain-kehidupan-masyarakat-kepulauan/</link>
		<comments>http://desramedia.wordpress.com/2008/05/07/sisi-lain-kehidupan-masyarakat-kepulauan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 May 2008 23:40:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rahmat RA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://desramedia.wordpress.com/?p=107</guid>
		<description><![CDATA[”Matee aneuk meupat jeurat, gadoh adat ho tamita.” Peribahasa ini dipegang erat-erat oleh penduduk Aceh, tak terkecuali masyarakat yang mendiami Pulo Breuh. Dalam masyarakat Pulo Breuh, adat Keunduri u Gle masih dijalankan sampai sekarang. Ritual adat ini biasanya dilakukan pada awal musim bercocok tanam di ladang, tepatnya setahun sekali pada awal musim barat atau penghujung [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desramedia.wordpress.com&amp;blog=1514044&amp;post=107&amp;subd=desramedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>”Matee aneuk meupat jeurat, gadoh adat ho tamita.” Peribahasa ini dipegang erat-erat oleh penduduk Aceh, tak terkecuali masyarakat yang mendiami Pulo Breuh. Dalam masyarakat Pulo Breuh, adat Keunduri u Gle masih dijalankan sampai sekarang.<span id="more-107"></span><br />
Ritual adat ini biasanya dilakukan pada awal musim bercocok tanam di ladang, tepatnya setahun sekali pada awal musim barat atau penghujung musim timur. ”Biasanya warga desa Lapeng, Kemukiman Breuh Utara memulai bercocok tanam pada musim ini,” ujar Syafiatuddin, Sekdes Lapeng.Keunduri u Glee merupakan budaya yang sudah berjalan turun-menurun dalam Masyarakat Pulo Breuh. ”Acara keunduri u Glee itu semacam peusijuek, yang biasa dilakukan oleh masyarakat Aceh lainnya, kemudian disusul dengan ritual lain,” tambah Syafiatuddin. Melalui acara ini, masyarakat berharap agar hasil panen mereka bertambah, dan berkat. Dalam hal bercocok tanam, masyarakat Pulo Breuh masih menggunakan ilmu perbintangan ala tradisional yang telah membudaya untuk memulai bertani, dengan melihat kondisi bulan.<br />
Cara seperti itu, untuk memastikan kondisi pasang surut air laut di pantai dalam menentukan waktu yang tepat bercocok tanam, untuk tanaman jenis tertentu. ”Biasanya jika sesuai dengan waktu yang ditentukan setelah melihat bintang, maka tanaman akan tumbuh bagus dan memberi hasil yang memuaskan,” jelas Nazaruddin (35), warga desa Lapeng.<br />
Masyarakt di Pulo Breuh sudah hafal benar dengan tanda-tanda alam, yang diwarisi dari moyang mereka. Komoditi kacang kuning, misalnya, agar tumbuh bagus maka musim tanamnya di penghujung musim barat atau musim hujan. Biasanya jatuh pada bulan Oktober sampai Januari.<br />
Sementara jika ditanam pada musim lain, kacang kuning tumbuh jelek dan tidak memberikan hasil maksimal.<br />
Selain sebagai petani, masyarakat Pulo Aceh juga bekerja sebagai nelayan. Iskandar Is, misalny, seorang warga desa Lapeng, yang berprofesi sebagai petani juga merangkap sebagai nelayan. “Kebiasaan masyarakat Pulau Breuh pergi melaut menangkap ikan dilakukan pada malam hari, karena pada malam hari lebih mudah menangkap ikan daripada siang hari,” jelasnya. Iskanda menambahkan, cahaya terang lampu sorot pada boat atau kapal pada malam hari, mampu menarik perhatian ikan-ikan, sehingga ikan-ikan berdatangan ke lokasi di sekitar boat tersebut.<br />
Dalam upaya pelestarian alam, masyarakat Pulau Breuh sudah lama mempunyai aturan-aturan adat yang tidak boleh dilanggar. Masyarakat di Lapeng, misalnya, menuturkan, menebang kayu secara sembarangan sangat dilarang, apalagi menebang kayu-kayu besar yang ada disekitar desa.<br />
Begitu juga di desa Alue Raya yang berusaha menyelamatkan penyu. Di sini, masyarakat dilarang membunuh penyu. Jika ketahuan membunuh seekor penyu akan diberikan sanksi adat berupa harus melakukan Keunduri Bu Leukat Kuneng atau kenduri ketan. Dalam acara itu juga harus disediakan kue-kue tradisional sebagai penganannya. Tidak hanya itu, setelah melakukan upacara adat tersebut, terhukum juga diwajibkan membersihkan desa tanpa bantuan orang lain.[]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/desramedia.wordpress.com/107/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/desramedia.wordpress.com/107/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/desramedia.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/desramedia.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/desramedia.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/desramedia.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/desramedia.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/desramedia.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/desramedia.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/desramedia.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/desramedia.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/desramedia.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/desramedia.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/desramedia.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/desramedia.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/desramedia.wordpress.com/107/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desramedia.wordpress.com&amp;blog=1514044&amp;post=107&amp;subd=desramedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://desramedia.wordpress.com/2008/05/07/sisi-lain-kehidupan-masyarakat-kepulauan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>5.546182 95.319054</georss:point>
		<geo:lat>5.546182</geo:lat>
		<geo:long>95.319054</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee60067d4ead20f465ed9f38f7fb74b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">desramedia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pante Weung, Tempat &#8216;Mangkal&#8217; Sang Petelur</title>
		<link>http://desramedia.wordpress.com/2008/05/07/pante-weung-tempat-%e2%80%9cmangkal%e2%80%9dsang-petelur/</link>
		<comments>http://desramedia.wordpress.com/2008/05/07/pante-weung-tempat-%e2%80%9cmangkal%e2%80%9dsang-petelur/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 May 2008 23:16:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rahmat RA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reportase]]></category>
		<category><![CDATA[pantai]]></category>
		<category><![CDATA[penyu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://desramedia.wordpress.com/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[Di sebuah pantai kecil sebelah barat Pulau Breuh Utara, ada satu pantai yang disebut Pantai Weung. Luasnya tidak kurang dari 50 meter, diapit oleh dua buah bukit di sisi utara dan selatan. Di pantai ini biasanya terdapat penyu-penyu yang mendaratkan telurnya di pantai berpasir. Penyu, salah satu spesies binatang langka yang populasinya kian hari semakin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desramedia.wordpress.com&amp;blog=1514044&amp;post=71&amp;subd=desramedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di sebuah pantai kecil sebelah barat Pulau Breuh Utara, ada satu pantai yang disebut Pantai Weung. Luasnya tidak kurang dari 50 meter, diapit oleh dua buah bukit di sisi utara dan selatan. Di pantai ini biasanya terdapat penyu-penyu yang mendaratkan telurnya di pantai berpasir.<span id="more-71"></span><br />
Penyu, salah satu spesies binatang langka yang populasinya kian hari semakin menurun, dan terancam punah, karenanya sangat dilindungi di sana. Keberadaan penyu dimana pun memberi manfaat bagi manusia, karena telur-telurnya selain berprotein tinggi, juga memberi berguna secara ekonomi bagi warga yang mengelolanya, seperti yang dirasakan oleh warga desa Alue Raya saat ini.<br />
Saat ini populasi penyu yang mendarat di pantai Weung terancam hilang, apalagi ditambah dengan tidak adanya lagi usaha pengembangan populasi penyu yang dilakukan oleh warga, karena telur-telur penyu terus diambil menjadi sumber devisa bagi warga. Menurut keterangan dari sekretaris desa Alue Raya, Jailani M Amin(39 th), penyebab berkurangnya populasi penyu di daerah itu karena telur-telurnya terus diambil, juga diakibatkan oleh hama biawak yang sering memakan telur-telur penyu di pantai Weung. Makanya telur-telur penyu jarang yang dapat dieramkan.<br />
Untuk melindungi populasi penyu, masyarakat setempat mempunyai hukum adat yang harus dipatuhi. Sanksi adat itu berupa harus membuat Kenduri Ketan atau warga setempat biasa menyebutnya dengan Peusijuek Bue leukat kuneng, lengkap dengan penganan-penganannya, seperti kue-kue tradisional dan sebagainya, apabila kedapatan membunuh penyu. Tradisi ini tetap dipertahankan warga pulau Breuh secara turun temurun sampai sekarang.<br />
Sukri Is(50), warga desa Alue Raya, dijuluki dengan Ureung Pak Penyi oleh warga setempat, adalah penjaga Pantai Weung, tempat mendaratnya penyu di pulau Breuh dan sekaligus sebagai pengelolanya.<br />
“Sebelum tsunami, jumlah penyu yang mendaratkan telurnya di pantai ini tidak lebih dari 4 ekor dengan telurnya berkisar antara 60-an sampai seratus-an dalam seminggu,” katanya.<br />
Pasca tsunami, jumlah penyu-penyu yang mendarat di pantai Weung berkurang setengahnya. ”Paling tinggal 2 ekor penyu lagi, itu pun dalam selang waktu 12 malam,” ujar Syukri Is.<br />
Jenis-jenis penyu yang sering mendarat di pantai weung di antaranya, Penyi Abeung (Penyu Belimbing-Dermochelys coriacea) berukuran sekitar 2,5 m, Penyi Eungkot atau penyu ikan (Eretmochelys imbricate) karena bentuknya seperti ikan, berukuran sekitar 1 m dan yang paling kecil adalah, Penyi Karah (Penyu Hijau-Chelonia Mydas), berukuran sekitar 0,5m atau 50 meter. Di antara jenis-jenis penyu yang lainya, yang paling banyak menghasilkan telur adalah Penyu Karah, walaupun ukurannya kecil diantara jenis yang lainnya.<br />
Menurut dari cerita masyarakat pulau Breuh, seperti dituturkan Ureung pak Penyi, beberapa tahun lalu pernah ada penyu yang kakinya sebelah tidak ada lagi, masyarakat setempat menyebutnya dengan penyi puntong gaki, namun jenisnya kurang diketahui. Menurut cerita, jika ada penyu itu mendarat di pantai Weung, maka bakal banyak penyu-penyu yang lain akan pulang ke pantai Weung mendaratkan telur-telurnya. Ureung pak Penyi menyebutkan bahwa penyi puntong gaki itu terakhir terlihat pada tahun 2000.[]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/desramedia.wordpress.com/71/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/desramedia.wordpress.com/71/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/desramedia.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/desramedia.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/desramedia.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/desramedia.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/desramedia.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/desramedia.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/desramedia.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/desramedia.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/desramedia.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/desramedia.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/desramedia.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/desramedia.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/desramedia.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/desramedia.wordpress.com/71/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desramedia.wordpress.com&amp;blog=1514044&amp;post=71&amp;subd=desramedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://desramedia.wordpress.com/2008/05/07/pante-weung-tempat-%e2%80%9cmangkal%e2%80%9dsang-petelur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>5.546182 95.319054</georss:point>
		<geo:lat>5.546182</geo:lat>
		<geo:long>95.319054</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee60067d4ead20f465ed9f38f7fb74b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">desramedia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Seberkas Cahaya Dari Tanah Seberang</title>
		<link>http://desramedia.wordpress.com/2008/05/07/seberkas-cahaya-dari-tanah-seberang/</link>
		<comments>http://desramedia.wordpress.com/2008/05/07/seberkas-cahaya-dari-tanah-seberang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 May 2008 22:28:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rahmat RA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reportase]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://desramedia.wordpress.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[Dulu ada cerita. Tak jelas apakah cerita itu benar atau tidak. Jika kita sempat menyeberang ke Pulau Aceh, kita disambut bak seorang raja. Sejak dari tempat pendaratan boat, kita dilayani dengan ramah, dibawa ke warung, dan ditawarin makanan apa saja, asal kita sanggup memakannya. Tapi jangan berharap kita akan dibawa-bawa jalan-jalan mengelilingi Aceh, dan menikmati [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desramedia.wordpress.com&amp;blog=1514044&amp;post=68&amp;subd=desramedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dulu ada cerita. Tak jelas apakah cerita itu benar atau tidak. Jika kita sempat menyeberang ke Pulau Aceh, kita disambut bak seorang raja. Sejak dari tempat pendaratan boat, kita dilayani dengan ramah, dibawa ke warung, dan ditawarin makanan apa saja, asal kita sanggup memakannya. Tapi jangan berharap kita akan dibawa-bawa jalan-jalan mengelilingi Aceh, dan menikmati pemandangan di Pulau Aceh. Begitu kita selesai makan, kita diantar ke tempat pendaratan boat untuk kembali pulang.<span id="more-68"></span><br />
Kita tak perlu heran diperlakukan seperti itu. Karena penduduk pulau Aceh ramah-ramah. Tapi ada sesuatu yang mereka sembunyikan di sana.<br />
Mereka tidak ingin warga dari daratan Aceh mengetahui aktivitas mereka menanam ganja di sana. Malah, uang yang digunakan untuk menjamu kita dan membayari ongkos, semuanya berasal dari hasil penjualan ganja.<br />
Bisa jadi cerita dibuat untuk menggambarkan betapa misteri kawasan Pulau Aceh. Atau, cerita itu hanyalah humor belaka. Karena tak ada sumber tertulis yang memuat cerita seperti itu, melainkan beredar dari mulut ke mulut. Sehingga tak bisa diverifikasi, apakah kenyataannya demikian atau hanya cuma karangan belaka. Yang pasti, Pulau Aceh menyimpan banyak misteri dan potensi alam yang luar biasa.<br />
Munyoe intan han ek soe linteng, beuthat lam leubeung dibedoh cahya” (Kalau intan tak bisa dihalang, walau di kubangan tetap bercahaya). Rasanya ungkapan lama rakyat Aceh ini layak disematkan untuk tetangga pulau Sabang ini. Pulau itu tetap indah, meski Tsunami pada 26 Desember 2004 lalu hampir membenamkannya ke dasar lautan.<br />
Pesonanya tak pernah hilang. Pulau yang diceritakan punya tambang emas itu, pernah beberapa kali diisukan mau dijual atau dijadikan lokasi wisata untuk bule-bule. Malah, saat darurat militer, Pulau Aceh tersebut mau disulap menjadi tempat tahanan bagi kombatan GAM. Tapi belum satupun yang terealisasi. Pulau yang punya dua pulau utama tersebut masih tetap seperti semula.<br />
Dua pulau itu diberi nama Pulo Breuh (Pulau Beras) dan Pulo Nasi. Tak diceritakan, siapa yang pertama memberi nama pulau tersebut. Hanya saja, menurut cerita warga setempat, Pulo Breuh dan Pulo Nasih merupakan nama yang dinobatkan oleh masyarakat daratan, yang diambil dari letak geografis Pulo Nasi dan Pulo Breuh dengan Aceh daratan. Masyarakat Aceh daratan, ketika berkebun ke Pulau Aceh, sering membawa bekal beras, bukan nasi. Karena jika yang dibawa adalah nasi, maka begitu sampai ke kedua pulau tersebut, nasi akan basi. Makanya, warga Aceh daratan membawa beras, dan memasak di sana.<br />
Saat tsunami tiga tahun silam, kedua pulau ini ikut tersapu gelombang maut tersebut dan Pulo Breuh termasuk yang paling parah. Di Pulau ini terdapat dua kemukiman, yakni Breuh Selatan dan Utara. Pulo Breuh selatan memiliki beberapa desa, di antaranya Lampuyang (Ibukota kecamatan Pulo Aceh), Gugob, Seurapong, Blang Situngkoh, Paloh, Ulee Paya, Teunom dan Lhoh. Sementara Pulo Breuh Utara terdiri dari Desa Lapeng, Rinon, Alu Raya dan Meulingge.<br />
Kawasan pantai di Pulo Breuh Utara berupa kawasan ekosistem hutan pantai dan hutan manggrove ikut hancur oleh gelombang tsunami. Padahal sebelumnya begitu indah terlihat. Malah, di kawasan pantai Meulangge, yang memiliki batu-batu karang besar terdampar ke darat, begitu juga di desa lain, seperti Lapeng, Rinon dan Alue Raya banyak ditemukan pecahan-pecahan karang dan sudah terdampai ke daratan.<br />
Hilangnya hutan manggrove dan nipah seluas dua hektar telah membuat desa Lapeng tak terbentengi lagi oleh terpaan angin dari arah lautan. “Angin yang bercampur dengan air garam menyebabkan tanaman di lahan pertanian terganggu,” jelas Fahmi Ibrahim (32), salah seorang warga desa setempat.<br />
Menurut Keuchik Meulingge, M. Dahlan, hutan Nipah di sepanjang pesisir pantai wilayah Meulingge kira-kira sejauh 1500 m ikut punah. Selain di Meulingge, hutan Nipah seluas 1 km di desa Rinon dan Alue Raya serta di Lheun Bale pun tinggal kenangan.<br />
Tidak hanya ekosistem alam wilayah pesisir yang hancur, namun beragam fasilitas fisik lainnya juga mengalami hal yang sama, seperti dermaga, tanggul pengaman pemecah ombak sepanjang 200 meter serta bale-bale nelayan di pinggir pantai dan berbagai fasilitas lainnya.<br />
Meski sudah hancur, bukan berarti Pulau Aceh tak seindah dulu lagi. Sekarang, sedikit demi sedikit Pulau Aceh berbenah. Tak salah, jika banyak orang ingin pergi ke sana, karena, di samping tidak lagi diantar pulang begitu selesai dijamu makan, kita bisa menikmati sisa-sisa keindahan yang masih belum pudar dari Pulau Aceh. Itulah seberkas cahaya dari tanah seberang.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/desramedia.wordpress.com/68/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/desramedia.wordpress.com/68/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/desramedia.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/desramedia.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/desramedia.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/desramedia.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/desramedia.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/desramedia.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/desramedia.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/desramedia.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/desramedia.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/desramedia.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/desramedia.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/desramedia.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/desramedia.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/desramedia.wordpress.com/68/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desramedia.wordpress.com&amp;blog=1514044&amp;post=68&amp;subd=desramedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://desramedia.wordpress.com/2008/05/07/seberkas-cahaya-dari-tanah-seberang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>5.546182 95.319054</georss:point>
		<geo:lat>5.546182</geo:lat>
		<geo:long>95.319054</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee60067d4ead20f465ed9f38f7fb74b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">desramedia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MUNGKINKAH BIREUN JADI KOTA METROPOLIS?</title>
		<link>http://desramedia.wordpress.com/2007/10/14/mungkinkah-bireun-jadi-kota-metropolis-2/</link>
		<comments>http://desramedia.wordpress.com/2007/10/14/mungkinkah-bireun-jadi-kota-metropolis-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Oct 2007 14:26:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rahmat RA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://desramedia.wordpress.com/?p=128</guid>
		<description><![CDATA[Sejarah kejayaan Aceh masa Iskandar Muda, sepertinya ingin diulang di Kota Bireuen. Kota yang lepas dari Kabupaten Aceh Utara tahun 1999 itu, kini makin berkiprah. Terutama dalam bidang perindustrian. Rancangan industri tersebut bukanlah renungan tiba-tiba tentu. Akan tetapi, sebagian sudah terencana sejak awal-awal pelabuhan bebas atau lebih dikenal dengan Kawasan Pembangunan Ekonomi Terpadu (Kapet) Sabang. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desramedia.wordpress.com&amp;blog=1514044&amp;post=128&amp;subd=desramedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejarah kejayaan Aceh masa Iskandar Muda, sepertinya ingin diulang di Kota Bireuen. Kota yang lepas dari Kabupaten Aceh Utara tahun 1999 itu, kini makin berkiprah. Terutama dalam bidang perindustrian. Rancangan industri tersebut bukanlah renungan tiba-tiba tentu. Akan tetapi, sebagian sudah terencana sejak awal-awal pelabuhan bebas atau lebih dikenal dengan Kawasan Pembangunan Ekonomi Terpadu (Kapet) Sabang. Hanya saja kondisi Aceh sebelumnya tak memungkinkan.<span id="more-128"></span><br />
Tahun 1999, merupakan masa-masa konflik terparah. Aceh yang selama ini jadi pusat Daerah Operasi Militer (DOM) telah dicabut. Namun militer masih menguasai kawasan ini. Bangunan fisik banyak yang jadi sasaran dan terbakarkan. Bila ada anggaran daerah, pun itu akan habis untuk membangun infrastruktur yang rusak.<br />
Derita belum usai. Tahun 2004, bencana alam terbesar di Indonesia terjadi di Serambi Makkah ini. Sebagai kota kecil yang baru belajar mandiri, hal ini sangat berdampak bagi perkembangan Kota Bireuen yang dari jauh-jauh hari sudah direncanakan. Barulah pada 2005, sebuah MoU damai ditandatangani di Helsinki. Hal ini kemudian dapat dirasakan untuk memuluskan jalan merajut asa ke masa depan. Kota Bireuen pun disulap menjadi kawasan industri dalam waktu yang relatif singkat. Letak yang sangat strategis, membuat rencana di kota ini berjalan mulus.<br />
Dalam peta rencana, pusat pertumbuhan ekonomi Bireuen tahun 2006, terlihat tiga industri tersebar di pesisir Selat Malaka. Salah satunya Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) di Kecamatan Peudada dengan fasilitas pabrik es yang berkapasitas memproduksi 10 ton per hari, beberapa ruko, berikut berkembangnya koperasi bahari.<br />
Itu adalah PPI terbaik di Aceh. Pembangunan PPI ini merupakan ide yang cemerlang. Ide yang patut dibanggakan masyarakat Aceh. Daripada dana yang ada dibelikan boat dan perlengkapan nelayan, dana tersebut dibangunkan PPI. Hasilnya, pekerjaan nelayan pun jadi lebih terarah.<br />
Dengan begitu, masa depan nelayan jadi makin cerah. Apalagi, PPI tersebut ramai disinggahi nelayan atau muge eungkot dari dan ke berbagai daerah. Pada gilirannya, bantuan boat datang dengan sendirinya.<br />
Bireuen sepertinya lebih cenderung melihat dari potensi ekonomi dalam pembangunan daerahnya. Pembangunan daerah di kota ini, terasa lebih memakai ‘sistem pemutaran uang’. Dana yang ada digunakan untuk mendapatkan hasil yang lebih besar. PPI tersebut, salah satu bangunan yang pada awalnya kurang disetujui karena menghabiskan dana cukup besar.<br />
Dengan dana Rp4,5 miliar lebih, akhirnya Bireuen mampu mendapatkan berlipat-lipat ganda keuntungan yang dipetik langsung oleh masyarakat. Karena itu, roda perekonomian kota ini terus berjalan dan lancar. Dari adanya PPI, ratusan masyarakat mendapat lapangan pekerjaan yang terdiri dari nelayan dan pedagang.<br />
Industri lain adalah Kawasan Industri Bireuen (KIB) di Gle Bate Geulungku Kecamatan Simpang Mamplam. Di lokasi inilah berkumpul industri-industri berkelas di Bireuen. Antaranya, industri garmen pakaian jadi yang dikelalo Koperasi Pabrik Garmen Aceh (KPGA). Buah prakarsanya, Internasional Garment Training Centre (IGTC) Bogor. Setidaknya akan ada 120 unit kavling industri berskala besar di atas areal minimum 660 hektar itu.<br />
Pabrik garmen tersebut yang pertama di Aceh. Keberadaan pabrik ini akan memperkecil biaya sandang masyarakat, karena biasanya, untuk urusan pakaian warga Aceh harus belanja ke Medan atau ke Tanah Jawa.<br />
Apalah arti perindustrian bila hanya jadi pajangan tanpa penunjang agar roda perekonomian berputar? Karena itu, gagasan pemekaran hamparan luas Glee Bate Geulungkue Simpang Mamplam, dan Kecematan Pandrah, diiringi pembangunan pelabuhan yang dapat disinggahi kapal lokal maupun asing.<br />
Dengan hubungan jalur pesisir akan memudahkan kapal-kapal asing singgah. Keadaan strategis ini mengingatkan kita pada kejayaan Sultan Iskandar Muda yang menjadikan pesisir sebagai jalur perdagangan. Bayangkan, bila bangsa asing mulai mengosumsi produksi dalam negeri, khususnya Aceh. Maka, taraf perekonomian rakyat akan semakin maju.<br />
Selain pabrik garmen di KIB, juga terdapat industri pabrik pengolahan logam Industri. Ini, dimotori mantan kombatan GAM. Satu lagi yang tak kalah penting juga memadati pesisir Aceh yaitu pusat perdagangan Bireuen.<br />
Dari sana, pertukaran barang dan kegiatan jual beli akan menjadi lebih praktis. Kapal-kapal asing pun dapat singgah tanpa harus melalui jalur darat. Bireuen memang memiliki daerah yang sangat strategis.<br />
Sebenarnya, siapa saja dapat mempergunakan jalur pesisir karena Indonesia di kelilingi laut. Namun, semua itu bergantung dari pola pikir dan rasa optimistis untuk keberhasilan dan kesejahteraan masyarakat.<br />
Bidang industri merupakan salah satu potensi lapangan pekerjaan yang luas dan dapat dikerjakan oleh kalangan atas maupun bawah. Sementara perindustrian yang pesat dan kompleks, sangat menggiurkan bangsa asing untuk menanamkan modal. Oleh karena itu, banyak bangsa asing yang ingin menanamkan modalnya di Bireuen, khususnya dalam bidang perindustrian.<br />
Bireuen akan menjadi pusat perdagangan dan perindustrian Aceh, karena hampir semua jenis usaha ada di situ. Tak salah bila kemudian Bireuen seperti sebuah kebun kecil yang produktif. Pasca penandatanganan damai Helsinki, semua “ditanam” di kawasan ini.<br />
Bukan hanya pabrik garmen, ada sebuah usaha lain yang sangat fantastis yaitu pusat biodiesel Bireuen. Bahan bakar alternatif tersebut dibuat dari biji jarak yang akan menghasilkan minyak pengganti solar.<br />
Terkadang, kita tidak dapat terlalu lama menunggu fosil-fosil dalam tanah membusuk hingga melahirkan bahan bakar. Meski biji jarak ini tidak dibeli langsung, tapi tokh segala cara dapat saja ditempuh seperti menanam pohon jarak dalam skala besar.<br />
Semua itu memerlukan keberanian dan kesabaran memang. Aceh, mungkin juga dunia tak perlu khawatir bila minyak di Arun habis karena Bireuen mungkin akan menggantikan mantan induknya itu dalam masalah bahan bakar.<br />
Rasanya tak lama lagi Bireuen, karena kecanggihannya, akan meninggalkan bagian Aceh lain yang telah lebih dulu berjaya. Namun, sungguh, Bireuen melakukan gebrakan yang luar biasa itu mulai merangkak naik semenjak satu atau dua tahun lalu.<br />
Bukan hanya industri, tapi juga tata wajah bangunan yang dirancang begitu fantastis. Kota ini hampir memenuhi segala persyaratan kota metropolitan dengan hadirnya supermarket Murni Garden Squer. Sebuah supermarket grosir terbesar yang begitu tertata apik.<br />
Itulah awal pembangunan wajah kota. Tentu, bangunan serupa akan bermunculan agar persaingan berjalan sportif. Cocok sekali. Akan ada kota impian di Aceh yang akan menjadi pusat tujuan bangsa asing dalam berkunjung di tanoh rincong. Seperti Bali misalnya. Mudah-mudahan saja. Namun, hal itu tentu dengan tetap menjaga Syariat Islam.<br />
Industri yang dibangun secara serentak, menjadikan masa depan Bireuen diserbu pengunjung dari berbagai kawasan. Karena itu, sebelum terjadi, Bireuen harus ligat-ligat mengantisipasi tata kota yang lebih praktis dan terkendali. Tujuannya, agar kota industri Bireuen tidak mati di tengah jalan akhirnya.<br />
Delapan tahun adalah waktu yang singkat untuk sebuah pembangunan yang besar. Kini, bukan hanya industri keripik dan sate matang yang akan kita temui ketika bolak-bolik Medan-Banda Aceh. Sudah lebih dari itu. Kita akan menemui sesuatu di Bireuen, bahkan yang tak pernah kita temui di bagian Aceh lain, yaitu rasa optimistis dalam membangun daerah.<br />
Saat ini, kota tersebut masih dikatakan sedang berdiri dan melanjutkan pembagunan. Mungkinkah beberapa tahun kemudian Bireuen menjadi kota metropolitan, sehingga menjadi tujuan semua masyarakat Aceh, Indonesia, bahkan dunia? Kepiawaian pemerintah setempat, tentu menjadi bagian terpenting yang turut menentukan masa depan. Semoga saja![]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/desramedia.wordpress.com/128/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/desramedia.wordpress.com/128/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/desramedia.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/desramedia.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/desramedia.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/desramedia.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/desramedia.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/desramedia.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/desramedia.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/desramedia.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/desramedia.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/desramedia.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/desramedia.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/desramedia.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/desramedia.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/desramedia.wordpress.com/128/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desramedia.wordpress.com&amp;blog=1514044&amp;post=128&amp;subd=desramedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://desramedia.wordpress.com/2007/10/14/mungkinkah-bireun-jadi-kota-metropolis-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>5.546182 95.319054</georss:point>
		<geo:lat>5.546182</geo:lat>
		<geo:long>95.319054</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee60067d4ead20f465ed9f38f7fb74b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">desramedia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>RIWAYAT KERAJAAN DI TEPI BARAT BAGIAN 2</title>
		<link>http://desramedia.wordpress.com/2007/10/03/tamatnya-riwayat-kerajaan-di-tepi-barat-bagian-2/</link>
		<comments>http://desramedia.wordpress.com/2007/10/03/tamatnya-riwayat-kerajaan-di-tepi-barat-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Oct 2007 06:04:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rahmat RA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Abdya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://desramedia.wordpress.com/2007/10/20/tamatnya-riwayat-kerajaan-di-tepi-barat-bagian-2/</guid>
		<description><![CDATA[Pagi itu di istana, permaisuri sedang bersedih, sudah memasuki hari kesembilan Raja belum juga kembali dari berburu, sedangkan ngidam Sang Permaisuri sudah tak terbendung lagi, Pagi itu, untuk menghibur kakak iparnya, Cut Sari sengaja memakai pakaian abangnya, yaitu pakaian kebesaran Raja Cut. Cut Sari melakonkan sikap Raja, untuk mengisi waktu agar kakak ipar merasa senang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desramedia.wordpress.com&amp;blog=1514044&amp;post=57&amp;subd=desramedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi itu di istana, permaisuri sedang bersedih, sudah memasuki hari kesembilan Raja belum juga kembali dari berburu, sedangkan ngidam Sang Permaisuri sudah tak terbendung lagi, Pagi itu, untuk menghibur kakak iparnya, Cut Sari sengaja memakai pakaian abangnya, yaitu pakaian kebesaran Raja Cut. Cut Sari melakonkan sikap Raja, untuk mengisi waktu agar kakak ipar merasa senang dan gembira.<br />
Sekitar jam sembilan pagi Cut Sari sudah siap dengan pakaian kebesaran, seolah-olah dia seorang Pangeran yang sedang mencumbu isterinya yang berduka.<span id="more-57"></span><br />
Demikianlah, pagi itu Cut Sari sedang berdialog, sebagai berikut :<br />
“Oh dindaku, sayang, mengapa wajahmu sangat murung?<br />
Apakah dinda marah pada kanda? Dari jauh kanda datang kemari untuk menemui dinda, tapi dinda tidak senang atas kehadiran Kanda, berhari-hari, berbulan dan bertahun, Kanda merindukanmu. Apakah dinda tidak rindu padaku?”<br />
Tanpa disadari, diluar kamar, Raja Cut berdiri tertegun didepan pintu, sebenarnya Raja ingin membuat kejutan pada Permaisuri, tapi didepan pintu dia mendengar perkataan cumbu rayu yang barusan didengarnya dari dalam kamar, Raja Cut hatinya bergetar karena desakan rasa ingin tahu, pikirannya mulai dirasuki beragam penafsiran, hatinya pun sudah mulai disusupi rasa cemburu, karena kata-kata tadi adalah kata–kata rayuan dari seorang laki-laki, dia merasa tidak enak, agar mendapat kepastian dengan jelas, Raja Cut mengintip dari lubang kunci pintu, melalui lubang kunci tersebut Raja Cut menyaksikan seorang pria berpakaian lengkap kebesaran, bahkan hampir menyerupai pakaian beliau, melihat hal tersebut, Raja Cut hatinya mendidih panas, rasa cemburu naik memuncak ke otaknya, tanpa disadarinya, Raja Cut menendang pintu kamar yang memang tidak di kunci, mendengar pintu ditendang Cut Sari terkejut, melihat ke pintu. Raja Cut karena emosi tidak kenal lagi pada adiknya sendiri. Cut Sari sangat ketakutan melihat abangnya sangat marah, diapun lari ke kamar sebelah, untuk membuka pakaian, Raja Cut dengan emosi tinggi membentak permaisuri yang kebingungan menyaksikan Raja Cut marah, dengan nada suara tinggi Raja Cut berujar, “Kurang ajar, ini rupanya kerjamu selepas saya pergi berburu, berbuat mesum dikamar. Kubunuh kau!” Mendengar ucapan tersebut permaisuri ketakutan, dan dari pintu kamar lain Ibu Suri (ratu) muncul, ingin melerai Raja yang sedang naik pitam karena cemburu buta.<br />
Raja mencabut pedang dengan tergesa-gesa, sewaktu pedang tercabut, terlempar satu ruas bambu kecil yang dibalut rapi, Raja Cut menyangkutkan tali pengikat bambu tersebut pada pergelangan pedang. Melihat Raja Cut mencabut pedang Ibu Suri menjerit, sambil berucap, “Hai Raja Cut, apa yang kau lakukan, mengapa kamu ini, sudah kemasukan jin gunung? karna baru pulang dari berburu rusa, mungkin hantu buru sudah mengikutimu dari gunung sana!” Ibu Suri terdiam sejenak, dan kembali beliau berucap, “Coba kamu lihat, siapa tadi yang kamu anggap sebagai laki-laki mesum, cepat lihat, supaya puas hatimu!” Mendengar teguran dari Ibu Suri, Raja Cut tersadar dari emosinya dia langsung pergi ke kamar sebelah, tempat adiknya lari tadi, setelah berdiri dipintu kamar Raja Cut sangat terkejut, menyaksikan bahwa yang dianggap laki-laki perayu permaisuri tadi adalah adik kandungnya sendiri yaitu Cut Sari. Raja Cut merasa lemah, Ibu Suri Kembali berkata, “Makanya menjadi seorang pemimpin tidak mudah, harus pandai mengendalikan diri.”<br />
Raja Cut kembali menyarungkan pedangnya, dia langsung memeluk adiknya Cut Sari, seraya memohon maaf, adiknya pun begitu juga memohon maaf atas kelancangannya tadi, setelah saling bermaafan, Raja kembali kepada Ibu Suri seraya memohon diampuni, sambil memeluk lutut Ibu Suri, Ibu Suri mengusap-usap kepala anaknya, dan segera meminta Raja Cut menemui permaisuri. Raja Cut segera merangkul permaisuri sambil mohon maaf, dengan ucapan, “Mohon maaf Kanda Adindaku. Sikapku tadi adalah karena rasa cemburu, karena Kanda sangat mencintaimu, apalagi di rahim Adinda sudah tersimpan benih tanda cinta Kanda pada Dinda” Tidak lama berselang, terdengar Ibu Suri berkata, “Raja Cut, bagaimana potongan bambu kecil ini, dan dimana kau dapatkan?” Mendengar ucapan ibu Suri,  Raja Cut baru teringat dan berkata, “Di pinggir sungai dihulu, ada anak kecil memohon diberikan uang, ia katanya tidak pernah melihat uang, maka saya berikan uang padanya  sekedar, dan dia memberikan bambu itu sebagai hadiah katanya, bambu itu barang wasiat, oleh karenanya jangan mengecewakan anak tersebut, bambu ini saya selipkan saja di tangkai pedang.”<br />
Ibu Suri berkata, “coba kita periksa, mungkin benar yang dikatakan anak tersebut mana tahu ada manfaat di kemudian hari.” Raja Cut beserta Ibu Suri dan Permaisuri serta adik Cut Sari, mereka bersama-sama menyaksikan bambu itu dibelah oleh Raja Cut, sewaktu Raja ingin membelah Ibu Suri berkata, “Hati-hati membelah, mungkin ada sesuatu dalam bambu tersebut, nanti terbelah.”<br />
Setelah Raja Cut memotong tali pengikat bambu itu, Raja Cut membelah dua, didalamnya terdapat satu lembar kertas, setelah dibuka kertas tersebut ada tulisan sebagai berikut ;<br />
Dilihat dengan mata sendiri tidak sah, didengar dengan telinga sendiri tidak sah, diperiksa dan diselidiki baru sah.<br />
Setelah Raja Cut membacakan tulisan itu, Ibu Suri terkejut, Ibu Suri minta Raja Cut memperhatikan gulungan kertas tersebut, Ibu Suri sangat yakin  bahwa kertas tersebut adalah tulisan yang  diberikannya kepada adik iparnya Teuku Raja Kamil dengan gelar Raja Tulot, Raja Tulot adalah adik kandung dari Raja Muda, sedangkan Raja Muda, adalah ayah dari Raja Cut, yang  memerintah kerajaan lama muda sekitar 22 tahun lalu.<br />
Ibu Suri berkata kepada Raja Cut, “Nah, bagaimana hasil buruan kalian, apakah memuaskan?” Raja Cut menjawab, “Mudah-mudahan dengan do’a bunda, dan dengan harapan anak kami dalam kandungan, ananda berhasil dalam berburu, bahkan ananda ada membawa hadiah kepada permaisuri, hadiah itu dibawa oleh teman-teman berburu, nanti boleh kita lihat bersama-sama. Nah Bunda, sekarang saya ingin mengetahui maksud dari tulisan di kertas dalam bambu tadi, mohon bunda ceritakan, karena ibunda sangat tertarik dan sangat terkesan mendengarnya.”[bersambung]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/desramedia.wordpress.com/57/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/desramedia.wordpress.com/57/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/desramedia.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/desramedia.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/desramedia.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/desramedia.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/desramedia.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/desramedia.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/desramedia.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/desramedia.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/desramedia.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/desramedia.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/desramedia.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/desramedia.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/desramedia.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/desramedia.wordpress.com/57/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desramedia.wordpress.com&amp;blog=1514044&amp;post=57&amp;subd=desramedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://desramedia.wordpress.com/2007/10/03/tamatnya-riwayat-kerajaan-di-tepi-barat-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>5.546182 95.319054</georss:point>
		<geo:lat>5.546182</geo:lat>
		<geo:long>95.319054</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee60067d4ead20f465ed9f38f7fb74b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">desramedia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>RIWAYAT KERAJAAN DI TEPI BARAT BAGIAN 1</title>
		<link>http://desramedia.wordpress.com/2007/10/01/tamatnya-riwayat-kerajaan-di-tepi-barat-bagian-1/</link>
		<comments>http://desramedia.wordpress.com/2007/10/01/tamatnya-riwayat-kerajaan-di-tepi-barat-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Oct 2007 01:34:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rahmat RA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Link]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Rahmat RA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://desramedia.wordpress.com/2007/10/01/tamatnya-riwayat-kerajaan/</guid>
		<description><![CDATA[Zaman dahulu, sekitar tahun 1785 M, di pesisir Pantai Barat Aceh banyak terdapat Kerajaan kecil, persisnya lokasi kerajaan yang dikisahkan dalam cerita ini adalah di Kecamatan Kuala Batee berbatasan dengan Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya sekarang, sebelum hancurnya kerajaan Kuala Batu, karena diserang oleh angkatan laut Amerika tahun 1832. Kerajaan Kuala Batee sebenarnya pecahan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desramedia.wordpress.com&amp;blog=1514044&amp;post=17&amp;subd=desramedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Zaman dahulu, sekitar tahun 1785 M, di pesisir Pantai Barat Aceh banyak terdapat Kerajaan kecil, persisnya lokasi kerajaan yang dikisahkan dalam cerita ini adalah di Kecamatan Kuala Batee berbatasan dengan Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya sekarang, sebelum hancurnya kerajaan Kuala Batu, karena diserang oleh angkatan laut Amerika tahun 1832. Kerajaan Kuala Batee sebenarnya pecahan dari Kerajaan Lama Muda adalah lanjutan dari Kerajaan Lama Tuha, karena Kerajaan Lama Tuha Hancur diterjang banjir pada pertengahan abad 18 (1740 M).<span id="more-17"></span><br />
Kisah ini terjadi di Kerajaan Lama Muda, pada waktu itu, Kerajaan Lama Muda diperintah oleh seorang Raja yang adil dan bijaksana, yang bernama Raja Cut Ampon Tuan, dengan panggilan sehari-hari hanya Raja Cut.<br />
Raja Cut sudah punya permaisuri, kawin sekitar 2 tahun lalu dengan Puteri Anjung Bulan, yaitu anak dari Raja Kuala Batu.<br />
Pada suatu hari Raja Cut mengunjungi ibundanya yaitu Po Cut Aren. Po Cut Aren pernah menjadi Ratu mengendalikan Kerajaan Lama Muda, setelah Raja Tua, yaitu ayah dari Raja Cut mangkat 6 tahun lalu.<br />
Raja Cut menemui ibunda Ratu, guna mohon izin untuk pergi berburu rusa ke hutan, karena Permaisuri ngidam daging rusa, dalam kehamilannya sudah 2 (dua) bulan.<br />
Pada zaman itu, raja pergi berburu rusa diiringi oleh pawang rusa dan beberapa orang peserta lainnya, ikut juga beberapa orang Pengawal Raja, rencana tempat perburuan rusa tersebut ialah dibagian pegunungan, sekitar daerah Babahrot sekarang, di daerah tersebut banyak terdapat rusa-rusa yang gemuk, karena selain hutan lebat, juga banyak rumput-rumput muda, dan di pinggir sungai pada tebing tanah juga banyak di jumpai tanah mengandung yodium (tanah asin), sebagai makanan tambahan bagi rusa. Adapun tanah yang dimakan rusa tersebut namanya dalam bahasa Aceh ialah Tanoh Lot.<br />
Setelah Raja Cut mengaturkan sembah sujud pada ibunda Ratu, Raja Cut menyampaikan hasratnya semoga ibunda berkenan untuk sementara berdiam di istana, untuk menemani permaisuri yang sedang hamil muda, mungkin sepeninggal Raja Cut pergi berburu banyak hal-hal yang terjadi pada Putri/Permaisuri, untuk itulah ibunda menemaninya agar ada yang membimbing di istana. Dengan persetujuan Ibunda Ratu, Raja Cut kembali pulang ke istana bersama-sama dengan Ibunda.<br />
Setelah semua perbekalan/peralatan berburu dilengkapi, Raja Cut beserta pengiringnya berangkat menuju tempat perburuan rusa di hulu sungai sebagai mana yang telah biasa di lakukan, setiap 6 (enam) bulan sekali Raja ikut berburu ke hutan pada lokasi yang biasa dikunjungi rusa untuk memakan tanah lot.<br />
Dengan menaiki perahu/Sampan dalam bahasa Aceh setempat namanya Jaloe, Jaloe ialah sampan/perahu yang di buat dari sebatang pohon kayu khusus, yang tidak mudah retak (pecah) setelah jadi perahu.<br />
Rencana berburu Rusa tersebut paling lama hanya 1 minggu saja. Setelah keberangkatan Raja Cut dan rombongan pergi berburu, di istana kerajaan Lama Muda Permaisuri ditemani oleh adik Raja Cut, namanya Sri Kumala Sari dengan panggilan Cut Sari saja, rombongan Raja Cut sudah berlalu 2 hari mudik mengikuti aliran sungai ke hulu, namun demikian rombongan belum menemukan jejak rusa yang akan di buru, pada hari ketiga Raja Cut bertitah pada pawang rusa, “Hai pawang, bagaimana kalau kita berkemah di daratan saja, perbekalan kita simpan dalam kemah, yang kita bawa hanya peralatan jaring saja dan bahan makanan.”<br />
Hari keempat belum juga menemukan jejak rusa, rombongan pemburu berpencar, di bagi atas tiga kelompok setiap kelompok terdiri enam orang, dan satu orang pawang rusa, kebetulan ada tiga orang pawang rusa yang ikut berburu. Kelompok Raja Cut jumlahnya sepuluh orang.<br />
Sejak dari pagi sampai sore tiap kelompok belum menemukan jejak rusa, maka malam hari rombongan beserta raja bermufakat untuk mengambil kata sepakat besok hari, apakah pindah kemah ketempat lain.<br />
Oleh karena sudah dua hari berkemah belum juga menemui jejak rusa, maka hasil musyawarah besok harus pindah kemah ketempat lain dengan menempuh jalan darat, rombongan Raja Cut naik perahu, dan rombongan lain jalan kaki menyusuri pinggiran sungai, mana tau ada rusa yang tersesat di temui dalam perjalanan, pada sore hari di hari keenam setelah berjalan lebih kurang 5 km ke hulu, rombongan Raja Cut mengarahkan perahu ke tepi pantai rupanya makin ke hulu sungai makin luas pantai sungai yang ditimbun batu kerikil, Raja Cut mengatakan pada pembantunya, “Kita berkemah saja di sini.” Setelah membongkar semua peralatan dari perahu ke pantai mereka mendirikan kemah ditempat yang tinggi di pinggir sungai untuk mudah memantau apa bila ada hal yang ganjil, dan untuk memantau rusa apabila ada yang datang.<br />
Setelah rombongan Raja Cut selesai memasang tenda, maka sampai ke kemah tersebut kelompok lain, mereka kembali berkumpul dalam kemah masing-masing.<br />
Pada malam hari ketujuh, waktu tidur, terdengar suara ribut-ribut seperti ada bunyi angin kencang meniup daun-daun pohon kayu, dan juga terdengar suara gemuruh di tanah, semua orang dalam kemah terbangun dari tidur, mereka semua keluar dari kemah ingin tahu apa yang terjadi, semakin lama semakin dekat ke kemah, dari kejauhan terlihat ada yang berlari kencang, rupanya kawanan rusa bergerombolan, rusa-rusa tersebut lari dikejar harimau. Keesokan hari para anggota pemburu, mengikuti arah jejak kawanan rusa semalam, setelah berapa jam mereka berjalan, rombongan pengintip/pencari jejak menemukan kawanan rusa tersebut, sebagian sedang mandi berendam dalam sungai dan sebagian lagi sedang memakan tanah lot, dipinggir tebing sungai, setelah menemukan kawanan rusa tersebut, pencari jejak kembali ke kemah, melaporkan bahwa kawanan rusa tersebut sudah ditemukan di sungai agak ke hulu. Semua anggota pemburu merasa girang, karena harapan untuk membawa pulang daging rusa sudah nampak dan terbayang akan hasilnya, Raja Cut segera bertitah, “Ayo kita atur strategi memasang jaring, mana yang lebih baik hasilnya cara tersebut yang kita ambil jalannya.”<br />
Setelah memutuskan semua tata cara pemasangan jaring, maka semua personil pemburu tersebut mengangkat jaring untuk dipasang pada tempat yang sudah ditentukan.<br />
Kebiasaan rusa, dimana jalan yang dilalui untuk datang, jalan itu pula dilaluinya untuk kembali.<br />
Pawang rusa sudah mengatur strategi tempat-tempat berdiri personil yang mengarahkan rusa masuk perangkap jaring, sekitar jam 3 sore kawanan rusa sudah keluar dari sungai sebagian sudah naik kedaratan. Setelah semua keluar dari sungai pawang memberi aba-aba supaya memukul tabuh/gendrang agar rusa – rusa terkejut dan lari sesuai yang telah diarahkan.<br />
Setelah genderang dipukul terlihat rusa mulai berlarian, dikiri kanan jalur lari rusa dibunyikan suara gaduh agar rusa terperangkap kearah jaring.<br />
Setelah kawanan rusa berlarian suaranya seperti angin ribut, maka makin lama semakin hilang suara tersebut melewati batas jaring. Akhirnya, semua personil pemburu berlari kearah jaring untuk memeriksa apa ada rusa yang terjerat.<br />
Setelah memeriksa, mereka mendapatkan tiga ekor rusa dewasa dan dua ekor anak rusa. Tiga ekor rusa dewasa tersebut langsung disembelih oleh pawang rusa dengan disertai jampi-jampinya, supaya terbebas dari pengaruh hantu buru (pengaruh orang halus), demikian kepercayaan pawang rusa.<br />
Sedangkan anak rusa yang masih kecil tidak disembelih, rencana dari Raja Cut, akan dipelihara di istana. Setelah selesai menguliti rusa, hari pun Maghrib, semua mereka bermufakat apa akan pulang malam itu juga apa besok, karena tidak ada satupun yang menjawab, maka Raja Cut segera berkata, “Sebaiknya kita masak nasi dan makan malam, setelah itu baru kita kemasi semua barang, dan berangkat pulang malam ini juga. Sebagai mana biasa, pulang mengikuti aliran sungai kita tidak capek, karena perahu jalan sendiri, dan menurut cuaca hari ini tidak hujan. Bulan pun terang, mudah-mudahan waktu subuh besok kita sudah tiba dikampung.” Mendengar ucapan Raja tersebut semuanya setuju.<br />
Sekitar jam 11 malam, setelah memuat semua peralatan kedalam perahu, termasuk daging rusa dan anak rusa yang 2 ekor tersebut, merekapun berhanyut-hanyut dengan perahu mengikuti arus aliran sungai.<br />
Karena juru mudi menjaga keselamatan raja, perahu yang ditumpangi oleh raja tidak mau mengambil resiko berjalan cepat di air deras. Maka semuanya terlambat tiba di kerajaan, yaitu mereka merapat didermaga pinggir sungai jam 8.30 pagi hari kesembilan.[bersambung]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/desramedia.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/desramedia.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/desramedia.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/desramedia.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/desramedia.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/desramedia.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/desramedia.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/desramedia.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/desramedia.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/desramedia.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/desramedia.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/desramedia.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/desramedia.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/desramedia.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/desramedia.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/desramedia.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desramedia.wordpress.com&amp;blog=1514044&amp;post=17&amp;subd=desramedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://desramedia.wordpress.com/2007/10/01/tamatnya-riwayat-kerajaan-di-tepi-barat-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>5.546182 95.319054</georss:point>
		<geo:lat>5.546182</geo:lat>
		<geo:long>95.319054</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee60067d4ead20f465ed9f38f7fb74b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">desramedia</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
